Sman32garut.sch.id – Langit Sumba Barat kembali bergetar oleh deru langkah kaki kuda dan sorak-sorai ribuan penonton dalam atraksi budaya Pasola Gaura yang berlangsung meriah pada pertengahan Maret 2026. Wakil Gubernur (Wagub) Nusa Tenggara Timur (NTT), Johni Asadoma, yang hadir langsung di lokasi, memberikan apresiasi tinggi terhadap ritual adat ini. Menurutnya, Pasola bukan sekadar upacara pemujaan kepada leluhur, melainkan instrumen strategis yang mampu mendongkrak roda perekonomian masyarakat di wilayah Sumba.
Transformasi Budaya Menjadi Nilai Ekonomi Nyata
Wagub NTT melihat potensi besar dalam pengembangan pariwisata berbasis budaya di Sumba Barat. Ia mendorong pemerintah daerah dan masyarakat untuk mengemas Pasola dengan lebih profesional tanpa menghilangkan esensi kesakralannya. “Atraksi ini memicu perputaran uang yang sangat cepat, mulai dari penjualan cendramata, kuliner khas, hingga pengisian kamar-kamar hotel yang mencapai okupansi penuh,” ujar Johni saat menyaksikan jalannya pertandingan.
Selain itu, ia menyoroti peran penting pemasaran produk lokal selama festival berlangsung. Kain tenun ikat Sumba yang terkenal hingga mancanegara mendapatkan panggung utama saat ribuan turis berkumpul. Transaksi jual-beli yang terjadi secara langsung di area festival memberikan dampak instan bagi kesejahteraan para penenun di desa-desa adat sekitar Gaura.
Penataan Arena untuk Kenyamanan Wisatawan
Guna memaksimalkan dampak ekonomi, Johni Asadoma menyarankan penataan area Pasola yang lebih tertib dan modern. Ia mengusulkan pembuatan tribun penonton yang lebih nyaman dan representatif, bahkan dengan sistem berbayar bagi wisatawan yang menginginkan fasilitas premium.
“Jika kita menyiapkan tempat khusus bagi pedagang dan tribun bagi penonton, area festival akan terlihat lebih tertata. Hal ini tentu membuat turis merasa lebih betah dan ingin menghabiskan waktu lebih lama di sini,” tambahnya. Penataan yang baik juga mencakup aspek keamanan, di mana ia menyarankan penggunaan garis pembatas yang tegas agar interaksi antar kelompok penunggang kuda tetap berada dalam koridor aturan adat yang aman.
Sinergi Wagub NTT, Pariwisata dan Ekonomi Kreatif
Pemerintah Provinsi NTT terus mendorong sinergi antara sektor pariwisata dan ekonomi kreatif di daratan Sumba. Pasola menjadi momentum emas untuk memperkenalkan berbagai potensi daerah lainnya, seperti kopi Sumba, madu hutan, dan kerajinan tangan berbahan dasar alam. Wagub Johni percaya bahwa dengan manajemen festival yang tepat, Sumba Barat dapat menjadi destinasi unggulan yang mandiri secara ekonomi.
Ia juga mengajak para pemuda Sumba untuk lebih aktif mempromosikan keindahan Pasola melalui platform media sosial. Konten visual yang menarik tentang aksi heroik lempar lembing dari atas kuda dapat menarik minat generasi milenial dan Gen Z untuk berkunjung. Promosi digital yang masif akan memastikan bahwa Sumba tetap menjadi destinasi “top of mind” bagi petualang global.
Menjaga Keaslian Budaya di Tengah Modernisasi
Meskipun fokus pada pengembangan ekonomi, Johni tetap mengingatkan masyarakat untuk menjaga keaslian ritual Pasola. Ia meminta agar penataan atribut peserta, seperti penggunaan seragam atau ikat kepala, tetap merujuk pada ketentuan adat yang berlaku. Nilai-nilai kejantanan, sportivitas, dan penghormatan terhadap alam yang terkandung dalam Pasola harus tetap menjadi inti dari setiap atraksi yang ditampilkan.
Keaslian budaya inilah yang menjadi nilai jual utama bagi wisatawan. Mereka datang bukan hanya untuk melihat pertandingan, tetapi untuk merasakan atmosfer mistis dan historis yang menyertai setiap tetes keringat para pemain Pasola. Keseimbangan antara pelestarian nilai leluhur dan inovasi ekonomi menjadi kunci keberlanjutan pariwisata di Nusa Tenggara Timur.
Dampak Positif Bagi Sektor Transportasi dan Akomodasi
Lonjakan kunjungan wisatawan selama musim Pasola memberikan berkah bagi sektor transportasi lokal. Para penyedia jasa sewa mobil dan motor di Tambolaka hingga Waikabubak melaporkan kenaikan pesanan yang signifikan. Demikian pula dengan sektor akomodasi, mulai dari hotel berbintang hingga homestay milik warga di sekitar lokasi acara, semuanya meraup untung dari kedatangan para tamu.
Hal ini menunjukkan bahwa satu acara budaya berskala besar mampu menghidupkan seluruh rantai pasok pariwisata di daerah. Wagub Johni berharap dampak ekonomi ini tidak hanya terasa saat musim festival saja, tetapi juga memberikan efek jangka panjang melalui peningkatan infrastruktur dan layanan publik di Sumba Barat.
Wagub NTT: Pasola Sebagai Simbol Kejayaan Sumba
Atraksi Pasola Gaura 2026 sekali lagi membuktikan bahwa kekayaan intelektual dan budaya lokal adalah aset yang tak ternilai harganya. Dengan dukungan penuh dari pemerintah provinsi dan kabupaten, tradisi ini siap melangkah lebih jauh sebagai pilar ekonomi kerakyatan. Wagub Johni Asadoma optimis bahwa Sumba Barat akan terus berkembang menjadi pusat kebudayaan yang makmur dan membanggakan bagi seluruh rakyat NTT.